Sebuah perjalanan hidup yang dialami oleh anak manusia yang sangat mempunyai harapan terbesar dalam hidupnya, namun ketika itu banyak kerikil yang selalu dialami olehnya, namun semuanya dijadikan sebagai seni dalam kehidupannya.
Suatu sore yang sangat dingin hembusan angin yang cukup menyentuh bulu-bulu kulit meresap dalam dada dan mencekam dalam dinginnya hembusan angin alam, sambil berjalan menuju tempat tinggalnya pemuda tersebut tidak henti-hentinya mengucapkan doa yang selalu di inginkannya dalam hidup, demi mengejar sebuah mimpi sampai-sampai lupa sudah nyampai didepan pintu halaman rumahnya.
Dalam suatu hari pemuda tersebut meminta ijin kepada orang tuanya untuk berangkat ke tempat yang cukup jauh pergi ketempat dimana keinginannya itu ingin terwujud. Asna itulah nama pemuda tersebut.
“bu, Asna mau mencari pekerjaan di Kota Jakarta yach bu, boleh yach”
“memangnya mau kerja apa di sana ? lagian tidak ada saudara atau teman disana !..”
“Asna ingin meraskan bagaimana mencari nafkah sendiri bu, “ Jawab Asna
Ibunya bingung takut akan terjadi sesuatu sebab Asna adalah anak semata wayang,
Dengan berbagai kendala permintaan untuk berangkat mencari pekerjaan pun dikabulkannya. “ Nak, jika nanti sudah ada di Kota Jakarta. Belum ataupun sudah dapat pekerjaan jangan lupa kabari ibu yach, !” “baik bu” jawabnya.
Sambil berpelukan dan isak tangis anak dan ibu itupun tak terbendung ketika Asna memeluk ibunya dan mencium ibunya, “doakan Asna yach bu...” sambil meneteskan air matanya sang ibu pun mengusap rambut dan kening anaknya sambil menciumi anaknya dan berkata “kau adalah cahaya hidup kami jaga baik-baik diri yach, ibu dan bapak akan selalu mendoakan kamu nak...” air mata yang terus-menerus jatuh tak terasa oleh ibu Asna. Dilepaskannya anaknya untuk pergi mencari jati dirinya sendiri melawan kehidupan alam yang cukup rumit.
Sesingkatnya perjalanan Asna menuju Kota di seberang jauh disana, ibu Asna yang ada di desa selalu mendoakan dan selalu memikirkan bagaimana nasib anaknya.
“semoga anakku yang jauh disana mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang baik, jaga anak kami yach Allah” doa yang di panjatkan untuk anaknya dari sang ibu yang selalu menyayangi anaknya
Sudah sepekan Asna berada di kota Jakarta dan langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit sebagai penjaga dan membantu pekerjaan salah satu dokter disana yang sangat bersimpati dan kasihan terhadap Asna. Tanpa pikir panjang tawaran yang di berikan pak Dokter tersebut diterimanya, setiap hari Asna bekerja di Rumah Sakit tersebut. Kabar pekerjaan dan keadaan dirinya sudah disampaikan kepada orang tuanya, sehingga hati sang anak sangat lega dan gembira ketika orang tuanya mengucapkan rasa syukur yang sangat dalam.
Dua bulan berlalu, Asna punya banyak kenalan baik dokter, suster ataupun perawat dan yang lainnya. Banyak yang kagum dan menyukai dengan tingkah laku dan prilaku yang dimiliki oleh Asna. Suatu ketika Asna punya teman dekat yang bernama Yati. Yati adalah seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit tersebut. Mereka sering berjalan bersama entah ketika mau makan siang dan ketika ada kegiatan kantor yang mengharuskan keduanya harus berjalan bersama.
“Dokter mau makan siang ?” tanya Asna. “iya, kita bareng yu...” jawabnya
Mereka berdua kemudian larut dalam kegembiraan yang diantara keduanya sudah saling menyukai namun hanya bahasa tubuh saja yang mereka berikan, sinyal-sinyal cinta dan suka satu sama lain sudah saling ditunjukkan, namun Asna sendiri sadar akan diri sendiri dan siapa dirinya. Sehingga suatu hari mereka berjalan bersama dengan penuh daya keinginan sangat tajam dalam hati kecilnya, penuh dengan keberanian yang cukup jauh direlung hatinya, Asna pun memberanikan diri untuk mengatakan bahwa dia menyukai Dokter tersebut.
“dok, boleh saya mengatakan sesuatu,” perkatakan yang terungkap dari mulut Asna yang begitu banyak pemikiran takut-takut tersinggung dan akan dijauhi oleh dokter tersebut.
Dokter pun dengan singkat menjawab “kenapa, kamu mau menembak saya..?”
Sesingkat itu juga Asna bingung harus bicara apa karena sebelum di katakan sudah ditebak duluan, akhirnya Asna hanya mengatakan “saya menyukai dokter dengan penuh hati saya”
Dokterpun tersenyum malu “saya pun sama menyukai kamu, tapi kita sangat tidak mungkin untuk bersama kalaupun bisa mungkin itu adalah jodoh”
Asna kaget dengan pernyataan dokter tersebut “makasih dok jika demikian”
Dokterpun hanya berkata “jalani saja serasa air mengalir, jika kita berjodoh pasti akan kembali juga” “ dan jangan mengejar saya karena apabila kamu mengejar saya, saya akan jauh, nanti juga jika saya butuh saya akan mengejarmu” ucap yati.
Semakin hari semakin dalam saja cinta Asna terhadap dokter tersebut, sehingga dia mengucapkan keinginannya yang ada dalam hatinya, apa yang terjadi?....
“dok, saya ingin dokter menerima saya apa adanya, apakah dokter mau menerima saya..?”
Dokter tersebut tidak menjawabnya walaupun dalam hatinya diapun sama sangat menyukai dan mencintai Asna dengan sepenuh hatinya, Yati bingung dengan keadaan itu, lalu Yati menceritakan kehidupan keluarganya yang cukup baik dan mempunyai kriteria yang cukup rumit jika dijadikan dasar dalam hidup. Keluarga Yati sang dokter tersebut menginginkan pendamping hidup yang sudah mapan dan jauh lebih cukup serta punya penghasilan yang jauh dikatakan cukup, dan semua itu di ceritakan terhadap Asna semuanya.
Pemuda tersebut hanya terdiam dan diam seribu bahasa, memikirkan apa yang dipunyainya dan apa yang di milikinya, membayangkan dirinya yang hanya seorang anak desa “Ya Allah, akankah dia jadi milikku..?” ratapnya,
“beginikah nasibku ketika mempunyai cinta dan untuk mendapatkanya harus terhalang oleh hal duniawi” meneteslah air mata di pipinya, ketika dia berdoa di hadapan sang Kholik.
Keesokan paginya dokter cantik tersebut menyatakan dengan sebenarnya kepada Asna, “Asna, maaf saya hanya menganggap kamu adalah saudara saya, seperti kakak kandung saya”
Seperti petir menghantam bumi, jauh kedalam pikiran Asna, lemas tak berdaya seperti laksana daging apabila di seset dengan pisaupun sepertinya tidak terasa,
Asna diam tak bicara dan tak berkata apa-apa dia hanya tersenyum dan hanya senyuman yang diperlihatkannya, dokter cantikpun tahu mata dan muka Asna tidak menerima pernyataan itu, namun entah itulah yang dilakukan dokter tersebut.
“beginikah nasib ku yach Allah, “
Dalam bathin Asna berkata “akan ku coba mendapatkannya walau bagaimanapun akan ku coba dulu, jika sudah ditolak benar-benar olehnya dan keluarganya, baru aku akan meninggalkannya” ungkapnya.
Kesedihan dan ratapan menghantui dalam hidupnya dan mempengharui dalam pekerjaanya, yang dulu sangat bersemangat dalam bekerja, menjadi agak begitu sedikit pelamun bahkan kadang diam. Tapi dalam hatinya ada doa untuk sang Tuhan. Hanya Allah yang menjadi komunikasi pertama keluhannya.
“Akankah cintaku terwujud yach Allah” harapan cinta yang di miliki Asna.
======================================================
SENJA HATIKU PART II
Suatu sore yang sangat dingin hembusan angin yang cukup menyentuh bulu-bulu kulit meresap dalam dada dan mencekam dalam dinginnya hembusan angin alam, sambil berjalan menuju tempat tinggalnya pemuda tersebut tidak henti-hentinya mengucapkan doa yang selalu di inginkannya dalam hidup, demi mengejar sebuah mimpi sampai-sampai lupa sudah nyampai didepan pintu halaman rumahnya.
Dalam suatu hari pemuda tersebut meminta ijin kepada orang tuanya untuk berangkat ke tempat yang cukup jauh pergi ketempat dimana keinginannya itu ingin terwujud. Asna itulah nama pemuda tersebut.
“bu, Asna mau mencari pekerjaan di Kota Jakarta yach bu, boleh yach”
“memangnya mau kerja apa di sana ? lagian tidak ada saudara atau teman disana !..”
“Asna ingin meraskan bagaimana mencari nafkah sendiri bu, “ Jawab Asna
Ibunya bingung takut akan terjadi sesuatu sebab Asna adalah anak semata wayang,
Dengan berbagai kendala permintaan untuk berangkat mencari pekerjaan pun dikabulkannya. “ Nak, jika nanti sudah ada di Kota Jakarta. Belum ataupun sudah dapat pekerjaan jangan lupa kabari ibu yach, !” “baik bu” jawabnya.
Sambil berpelukan dan isak tangis anak dan ibu itupun tak terbendung ketika Asna memeluk ibunya dan mencium ibunya, “doakan Asna yach bu...” sambil meneteskan air matanya sang ibu pun mengusap rambut dan kening anaknya sambil menciumi anaknya dan berkata “kau adalah cahaya hidup kami jaga baik-baik diri yach, ibu dan bapak akan selalu mendoakan kamu nak...” air mata yang terus-menerus jatuh tak terasa oleh ibu Asna. Dilepaskannya anaknya untuk pergi mencari jati dirinya sendiri melawan kehidupan alam yang cukup rumit.
Sesingkatnya perjalanan Asna menuju Kota di seberang jauh disana, ibu Asna yang ada di desa selalu mendoakan dan selalu memikirkan bagaimana nasib anaknya.
“semoga anakku yang jauh disana mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang baik, jaga anak kami yach Allah” doa yang di panjatkan untuk anaknya dari sang ibu yang selalu menyayangi anaknya
Sudah sepekan Asna berada di kota Jakarta dan langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit sebagai penjaga dan membantu pekerjaan salah satu dokter disana yang sangat bersimpati dan kasihan terhadap Asna. Tanpa pikir panjang tawaran yang di berikan pak Dokter tersebut diterimanya, setiap hari Asna bekerja di Rumah Sakit tersebut. Kabar pekerjaan dan keadaan dirinya sudah disampaikan kepada orang tuanya, sehingga hati sang anak sangat lega dan gembira ketika orang tuanya mengucapkan rasa syukur yang sangat dalam.
Dua bulan berlalu, Asna punya banyak kenalan baik dokter, suster ataupun perawat dan yang lainnya. Banyak yang kagum dan menyukai dengan tingkah laku dan prilaku yang dimiliki oleh Asna. Suatu ketika Asna punya teman dekat yang bernama Yati. Yati adalah seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit tersebut. Mereka sering berjalan bersama entah ketika mau makan siang dan ketika ada kegiatan kantor yang mengharuskan keduanya harus berjalan bersama.
“Dokter mau makan siang ?” tanya Asna. “iya, kita bareng yu...” jawabnya
Mereka berdua kemudian larut dalam kegembiraan yang diantara keduanya sudah saling menyukai namun hanya bahasa tubuh saja yang mereka berikan, sinyal-sinyal cinta dan suka satu sama lain sudah saling ditunjukkan, namun Asna sendiri sadar akan diri sendiri dan siapa dirinya. Sehingga suatu hari mereka berjalan bersama dengan penuh daya keinginan sangat tajam dalam hati kecilnya, penuh dengan keberanian yang cukup jauh direlung hatinya, Asna pun memberanikan diri untuk mengatakan bahwa dia menyukai Dokter tersebut.
“dok, boleh saya mengatakan sesuatu,” perkatakan yang terungkap dari mulut Asna yang begitu banyak pemikiran takut-takut tersinggung dan akan dijauhi oleh dokter tersebut.
Dokter pun dengan singkat menjawab “kenapa, kamu mau menembak saya..?”
Sesingkat itu juga Asna bingung harus bicara apa karena sebelum di katakan sudah ditebak duluan, akhirnya Asna hanya mengatakan “saya menyukai dokter dengan penuh hati saya”
Dokterpun tersenyum malu “saya pun sama menyukai kamu, tapi kita sangat tidak mungkin untuk bersama kalaupun bisa mungkin itu adalah jodoh”
Asna kaget dengan pernyataan dokter tersebut “makasih dok jika demikian”
Dokterpun hanya berkata “jalani saja serasa air mengalir, jika kita berjodoh pasti akan kembali juga” “ dan jangan mengejar saya karena apabila kamu mengejar saya, saya akan jauh, nanti juga jika saya butuh saya akan mengejarmu” ucap yati.
Semakin hari semakin dalam saja cinta Asna terhadap dokter tersebut, sehingga dia mengucapkan keinginannya yang ada dalam hatinya, apa yang terjadi?....
“dok, saya ingin dokter menerima saya apa adanya, apakah dokter mau menerima saya..?”
Dokter tersebut tidak menjawabnya walaupun dalam hatinya diapun sama sangat menyukai dan mencintai Asna dengan sepenuh hatinya, Yati bingung dengan keadaan itu, lalu Yati menceritakan kehidupan keluarganya yang cukup baik dan mempunyai kriteria yang cukup rumit jika dijadikan dasar dalam hidup. Keluarga Yati sang dokter tersebut menginginkan pendamping hidup yang sudah mapan dan jauh lebih cukup serta punya penghasilan yang jauh dikatakan cukup, dan semua itu di ceritakan terhadap Asna semuanya.
Pemuda tersebut hanya terdiam dan diam seribu bahasa, memikirkan apa yang dipunyainya dan apa yang di milikinya, membayangkan dirinya yang hanya seorang anak desa “Ya Allah, akankah dia jadi milikku..?” ratapnya,
“beginikah nasibku ketika mempunyai cinta dan untuk mendapatkanya harus terhalang oleh hal duniawi” meneteslah air mata di pipinya, ketika dia berdoa di hadapan sang Kholik.
Keesokan paginya dokter cantik tersebut menyatakan dengan sebenarnya kepada Asna, “Asna, maaf saya hanya menganggap kamu adalah saudara saya, seperti kakak kandung saya”
Seperti petir menghantam bumi, jauh kedalam pikiran Asna, lemas tak berdaya seperti laksana daging apabila di seset dengan pisaupun sepertinya tidak terasa,
Asna diam tak bicara dan tak berkata apa-apa dia hanya tersenyum dan hanya senyuman yang diperlihatkannya, dokter cantikpun tahu mata dan muka Asna tidak menerima pernyataan itu, namun entah itulah yang dilakukan dokter tersebut.
“beginikah nasib ku yach Allah, “
Dalam bathin Asna berkata “akan ku coba mendapatkannya walau bagaimanapun akan ku coba dulu, jika sudah ditolak benar-benar olehnya dan keluarganya, baru aku akan meninggalkannya” ungkapnya.
Kesedihan dan ratapan menghantui dalam hidupnya dan mempengharui dalam pekerjaanya, yang dulu sangat bersemangat dalam bekerja, menjadi agak begitu sedikit pelamun bahkan kadang diam. Tapi dalam hatinya ada doa untuk sang Tuhan. Hanya Allah yang menjadi komunikasi pertama keluhannya.
“Akankah cintaku terwujud yach Allah” harapan cinta yang di miliki Asna.
======================================================
SENJA HATIKU PART II

0 Komentar