Cinta Itu Mesti Jujur

Rinaaaaaa… suara ibu yang begitu kencang membangunkanku dari mimpi indahku, siapapun akan terbangun jika mendengar suara ibuku kalau sudah mengomel. Tapi aku sudah terbiasa dengan hal sperti itu. Ku raih Hpku dan ku lihat jam di Hpku yang sudah menunjukkan pukul 07-35, aku langsung loncat dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Mampus sudah hari ini aku pasti dapat teguran keras dari dosen untung-untung jika bisa mengikuti perkuliahan.
Seperti biasa jika ke kampus aku harus berjalan keluar untuk mendapatkan angkot jurusan kampus. Meski dalam kondisi terlambat aku tetap berjalan, tetap berlomba dengan waktu, berharap sampai di kampus dengan tepat waktu. Belum jauh ku berjalan, tiba-tiba ada sebuah motor berhenti disampingku. akupun kaget dan menoleh kepada orang itu. Sosok itu tak ku kenali (akupun bengong), iapun langsung tersenyum lebar kepadaku dan menawarkan tumpangan. Karena masih keadaan bengong, aku langsung berkata “tidak, terima kasih”. Ia pun langsung langsung pergi, kupandangi punggungnya dari kejauhan sampai tak ku lihat lagi dan berkata dalam hati, apakah tidak sebaiknya aku terima tawaran orang itu, apakah ia akan menganggap aku orang yang sombong? tapikan aku juga tidak mengenal dia. Ya sudahlah siapapun ia aku tak perduli. Aku pun melanjutkan perjalananku ke kampus.
Hari-hariku pun kulalui seperti itu terus menerus. Dua minggu setelah kejadian itu, di tempat yang sama dan orang yang sama pula menawarkanku tumpangan kembali. Tampa berpikir panjang akupun menerima tawarannya, dalam hati aku berkata “apakah ini hanya kebetulan atau ia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku”. Aku pun senyum-senyum sendiri dan ia membuka pembicaraan dengan bertanya kuliah dimana?, jurusan apa?, semester berapa? dan blaa… blaa… blaa… Begitupun aku bertanya tentang ia sedikit. Dan namanya Dodi, ia kuliah di kampus yang sama denganku tapi ia di jurusan Teknik. Waooo anak gambar-gambar, pikirku. Tapi keren juga laki banget, hehehehe… orangnya pun manis. ^_^
Setelah hari itu, akupun sering bertemu dengannya dan kali ini bukan hanya sampai terminal saja aku di antar, melainkan sampai di kampus. Lumayanlah irit ongkos.. ^_^
Waktu terus berlalu, tak terasa aku jalan dengan Dodi sudah sebulan lebih. Tapi kok dia tidak menyatakan cinta padaku. Apakah ia hanya menganggapku teman ataukah ia sudah punya kekasih?. Yang ada di benakku saat ini adalah tanda tanya besar. Jujur aku suka padanya, tapi masa cewek yang nembak duluan. Oh no… apa kata dunia. Emang sih sekarang sudah ada yang namanya Emansipasi Wanita, tapikan tetap saja laki-laki yang nembak duluan, yang datang melamarkan cowok. Hehehe… kok sudah lamar melamar, wah makin tidak beres ini dengan otakku. Ya… ya.. kalau emang jodoh pasti tak akan kemana.
Hari berganti hari hingga berganti bulan, hubungan kami masih seperti itu hanya menjadi TTMan. Hingga akhirnya aku mulai jenuh. Aku berfikir “tak mungkin aku seperti ini terus bersama dia, aku juga butuh seorang pasangan seperti teman-temanku”. Dan akhirnya aku mulai menghindar, ku putuskan untuk tak bersamanya lagi ke kampus.
Melihat aku yang berbeda seperti biasanya, Dodi pun heran dan bertanya “kamu kenapa Rin? kenapa tak mau lagi berangkat bersama?”.
“tidak apa-apa, aku hanya lagi banyak tugas kelompok dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman aku”. Jadi mungkin untuk sementara waktu aku tidak bisa berangkat bersama kamu ke kampus. Ia hanya tertunduk dan berkata “oh… kalu memang seperti itu tidak apa-apa, aku hanya heran kenapa kamu berubah, aku kira kamu marah”. Terlihat kekecewaan dari wajahnya, akupun bingung dan merasa tak enak. Apakah aku mengecewakannya? Entahlah… tapi inilah jalan terbaik untuk kami.
Sudah empat bulan lebih kami tak pernah bertemu, komunikasi pun tak begitu sering. Tak sengaja aku melihat dia di acara kampus. Minggu ini kampus mengadakan acara ultah dan semua fakultas mempunyai stand/bazar untuk memamerkan apa saja yang berhubungan dengan fakultasnya. Aku yang saat itu sedang bertugas menjaga stand fakultasku, melihat ia sedang melihat-lihat. tapi ia sedang bersama cewek, aku tak tahu apakah cewek itu pacarnya atau hanya teman. Aku yang tak tahu mau ngomong apa hanya mampu untuk tersenyum. Ia pun tersenyum kepadaku, “kamu jadi panitia ya? bagaimana kuliah kamu?” tanyanya. “Ia nih di beri tanggung jawab ya di jalani aja, kuliah alhamdulillah lancar” jawabku. “kalau kamu?” tanyaku balik. “Ya alhamdulillah lancar juga” jawabnya, kamipun serasa orang asing kembali yang tak tahu mau ngomong apa. Akupun langsung mempersilahkan mereka untuk meilhat-lihat apa saja yang kami pamerkan di stand kami.
Dari kejauhan aku menatapnya tak percaya akan bertemu lagi. Aku rindu dia, aku rindu saat-saat kita bersama dulu walaupun hanya sebatas teman, tapi aku sangat menikmati itu. Ternyata ia melihat lamunanku yang sedang menatapnya. Ia hanya senyum-senyum melihat kearahku, akupun langsung malu. Ya Tuhan, mengapa jantungku berdetak begitu kencang, kenapa aku tak bisa melupakannya, kenapa aku harus meliatnya, dan kenapa dengan wanita lain?
Ia pun langsung mengarah kepadaku, Ya Tuhan.. jantungku berdetak semakin kencang. “Kenapa?” tanyanya. Akupun seperti orang gagu “ahh… tidak” jawabku. Ia pun langsung memelukku, sontak saja semua mata tertuju pada kami. “kamu kemana saja, kenapa tak ada kabar, aku rindu sama kamu” ucapnya. Aku tak dapat menjawab air mataku langsung meleleh dipipiku. “Dod, cewek kamu sedang melihat ke arah kita” ucapku. “Ia bukan cewek aku” jawabnya, akupun serasa terbang, aku bahagia mendengar kata-kata itu.
“Kamu kemana saja?, aku sangat rindu padamu” tanyanya kembali. “Ia Dod, aku juga rindu sama kamu”, tapi bisa di lepas nggak pelukannya semua mata tertuju pada kita. ia pun melepaskan pelukannya. Dan menoleh sambil tersenyum kepada orang-orang itu, merekapun kembali pada kegiatan masing-masing.
Ia menarikku keluar. Setelah melepas kangen dan banyak bercerita selama empat bulan lebih ini tak pernah bertemu. Ia menyadari kalau ia merasa kehilangan, ia menyadari kebodohannya yang tak berani jujur menyatakan perasaannya dulu. Akupun menceritakan kenapa dulu aku menghindar. Kami pun tertawa betapa bodohnya kami yang tak berani berkata jujur tentang cinta. Kami pun membuka lembaran baru dan melupakan kebodohan kami dahulu.
THE END…

0 Komentar